Feeds:
Posts
Comments

Sekedar sharing aja nih, berdasarkan pengalaman belanja baju buat sendiri maupun buat anak-anak. 

Belanja Baju Online itu:

  1. Bisa dapet harga yang lebih murah. Karena kita gak perlu terbebani dengan biaya pajak atau sewa bangunan dll.
  2. Bisa dapet model-model yang unik, yang kadang gak ada di toko offline. Malah most of the time, model baju tertentu hits duluan di IG / marketplace baru dia muncul di mall-mall. 
  3. Bisa dapet akses ke baju-baju sisa export yang branded tapi harga miring abis. (Buat gua personally, gua sangat seneng belanja baju sisa export karena biasanya size nya besar-besar / baju big size).
  4. Bisa belanja sambil tiduran atau desek-desekan di kereta api.
  5. Belanja di butik online juga harus jeli banget sama foto dan deskripsi produk. Basically gua kalau beli di marketplace, selain filter by lokasi, juga bakal filter by paid merchant. Just to filter mana toko yang bener-bener niat jual baju online.
  6. Review juga ngaruh banget. It’s always better untuk beli sesuatu yang udah ada review dari pembeli lain. 

Belanja Offline itu:

  1. Paling aman kalau buat beli baju untuk orang ukurannya kompleks seperti gua. Kalau bahan bajunya melar sih gak apa-apa. Tapi kalau buat beli baju pesta online yang kebanyakan bahannya gak melar, ya.. Amannya sih beli offline aja. Case yang sama juga buat baju anak. Soalnya ukuran real masing2 anak itu gak standar loh. Take Mikail my son for example. Untuk tinggi dia udah seukuran anak umur 4 tahun tapi untuk lebar bajunya masih ngikutin anak umur 3 tahun. Pelik kan? Mending beli offline aja deh untuk baju-baju kayak gini. Biar pas aja ukurannya 
  2. Bisa pegang bahan dan jahitannya. Well toko baju online yang baik bakal ngasih foto detil bahan dan jahitan baju yang dijual sih. Tapi gak semua toko baju online seperti itu. So, salah satu benefit beli baju offline adalah kita bisa bener-bener nilai bahan dan jahitan baju yang kita beli
  3. Bisa nawar….. Ini kalau beli di pasar sih. Hehe…
  4. Beli baju offline itu bisa jadi menyita banyak waktu dan tenaga. Berangkat, kena macet, nyari parkir, milih dari satu store ke store lain. Belum kalau ada proses nawar, atau peak season, di mana untuk bergerak dari satu etalase ke etalase lain aja susah banget.
  5. Yang jelas most baju offline harganya lebih mahal dari yang baju online sih, for all the reasons mentioned above.

Nah, itu adalah beberapa pertimbangan untuk belanja baju, either online atau offline. Keduanya asik-asik aja sih asal sesuai situasi dan kondisi. Belanja baju offline bisa menjanjikan kualitas lebih reliable, tapi sekalinya ketemu toko online yang bagus dan reliable, gak menutup kemungkinan kita bisa dapet best of both worlds šŸ™‚

gaun pesta big size

Advertisements

Ada satu kegiatan yang paling gua hindarin banget menjelang (dan selama) bulan Ramadhan: belanja baju.

Contrary to what society thinks about women, I don’t really enjoy shopping for myself. It’s too crowded, too confusing, and generally too overwhelming for me. I never enjoyed shopping for clothes during Ramadhan, thus I stopped the ritual since long time ago. Even if i really had to go to find clothes for my kids, I chose big malls for covenience (and even so it’s still crowded).

This year, however, I went for a totally different reason. I went to shop for my online shop. Btw, kenapa gua jadi pake bahasa Inggris gini yak.

Yes. Tahun ini, due to reason of “I don’t want to miss another opportunity”, gua memutuskan untuk belanja ke Tanah Abang, the largest fashion wholesaler in South East Asia. And I went on the second day before Ramadhan, thinking that it wouldn’t be that crowded.

I was dead wrong.

If only I could explain what it was like…. *shivers*

It was like Idul Fitri came early in Tanah Abang. All people, mostly fashion sellers like me I pressume, came to Tanah Abang at the same time. Buat dapetin spot parkir aja gua spent 1 jam lebih! Buat keluar dari gedung parkir 1,5 jam! Dan buat completely keluar dari area jalanannya another 1,5 jam. Pokoknya total perjalanan pualngnya itu 5 jam! Udah kayak Bintaro – Bandung tapi pake macet berat di Bekasi!

Kenapa bisa gitu? Beside the fact that banyak orang ke Tanah Abang pake mobil ya. Tapi juga karena banyak pelapak dadakan yang gelar dagangan di jalur parkir mobil. So mobil yang mau masuk dan keluar harus hati-hati banget dan pelan-pelan takut nabrak orang atau dagangan orang. This is so damn wrong, man. Alhamdulilah suami gua sabar banget ya orangnya. Kalau enggak, bisa ngamuk2 kali dia di jalan.

Itu kalau ngomongin dari sisi perjalanannya ya, belum kondisi di dalemnya. Karena gua mau belanja stock, jadinya gua bawa koper geret ke sana. Which is a smart move banget, soalnya kita jadi gak berat jinjing2 belanjaan kemana-mana. Ini adalah salah satu tips belanja di Tanah Abang yang mungkin bakal gua share di postingan ke depannya.

Aisle / lorong di antara kios2 Tanah Abang pun gak ada yg sepi. At some point ada toko yang pegawainya dadakan jadi model catwalk. Jalan kesana kemari pakai baju dagangannya. Then, ada toko juga yg pegawainya teriak2: “Habiskan saja uangnya Bunda! Ayo kapan lagi!”

Wow. Epic.

I should’ve known better. This is what to be expected from the largest fashion wholesaler in South East Asia. I’ve shopped here before but never during the high season like this. This is madness at its peak.

This whole experience really give me a new appreciation to fashion online seller who buy their stocks from Tanah Abang. It really is a struggle. And it would reflect on their price tags. 

Pengalaman ini juga bikin gua mengerti kenapa baju di hypermarket besar kadang lebih mahal daripada seharusnya. It’s the convenience that you buy.

Only one word deh buat Tanah Abang: EPIC.
Jual Baju Muslim Jumbo kualitas Premium

Investasi Kesehatan

Dua investasi yang penting buat gua di dunia ini adalah: ilmu / skill, dan kesehatan.

Bukan hanya uang atau materi, tapi dua hal di atas esential buat kelangsungan hidup seseorang. At least buat gua.

Kalau dulu gua suka berat banget keluar uang or ngemodal dikit buat jaga kesehatan gua, belakangan gua terbilang sangat royal. Gua udah hampir setahun nekat join membership gym. Gold’s Gym lebih tepatnya. Yes. Gua keluar 498 ribu tiap bulan untuk membayar niat gua ngecilin badan. Nampaknya kalau gak dipaksa gitu, gua ga bakal mau bergerak untuk olahraga.

Gua juga lumayan niat beli sepatu olahraga. Sketchers Go Walk 3 seharga 899 ribu pun gua beli demi kenyamanan gua jalan di treadmill (karena BMI gua yg masih obess, gua masih blm boleh lari, bolehnya jalan cepet).

Kalau dalam keadaan biasa (gak pernah sakit / operasi, dll), gua pasti mikir dua hal itu adalah hal yang bener2 wasting money. Tapi setelah setahun lebih gua menjalani hidup tanpa empedu, gua jadi sadar bahwa gua memang harus mulai niat invest buat kesehatan.

Biasanya yang namanya investasi itu, gak bakal langsung kelihatan hasilnya. Tapi beda dengan investasi kesehatan (dan ilmu / skill juga sih). Hasilnya bisa langsung terlihat, or in my case, langsung terasa.

Sejak rajin ngegym, gua gak gampang kena sakit, badan lebih segar tiap hari, gerak lebih gesit, dan gak gampang capek kayak dulu. Memang untuk berat badan, gua masih sangat struggling. Tapi lingkar dada dan perut Alhamdulilah udah menurun. Banyak baju dan celana yang jadi kebesaran. So… I know i’m getting there.

In conclusion, investasi kesehatan itu memang kadang tidak murah, tapi insya Allah efeknya langsung terasa, dan long lasting pula. It’s never a lost cause.

Lastly, to quote Nike: just do it !

Baju dan dress ukuran jumbo terupdate!

Honestly, gua sering bingung kenapa pertanyaan ini masih suka muncul. 
Menurut gua sih, denger kata dokternya ya. Rekomendasinya apa. Gak percaya sama satu dokter, coba cari second opinion. Buat yang muslim sholat istikhoroh aja untuk memantapkan keputusan. Dan, kalau keputusan udah diambil, gak usah nengok belakang. Maju terus, jangan plin-plan.

Kenapa gua tiba-tiba bahas ini?

Tiga hari yang lalu, sebuah peristiwa yang ngenes banget kejadian sama salah satu orang deket gua. 

She’s been pregnant for 40 weeks, tapi si bayi belum menunjukkan tanda-tanda mau keluar. Sang calon ibu bersikukuh untuk tetap melahirkan normal, sehingga dia memutuskan untuk di induksi. Setelah berdebat panjang dengan keluarga, dimana keluarga agak keberatan dengan keputusan dia, berangkatlah dia dan suami ke rumah sakit tempat dia biasa kontrol.

Ternyata setelah di induksi lebih dari 24 jam, bukannya masih cuma 2. Dan si bayi gerakannya udah gak terlalu heboh. 

Pada titik ini keluarga udah menyarankan untuk disesar saja, karena kasihan bayinya. Tapi sang calon ibu tetap bersikukuh untuk tetap bisa normal. Akhirnya di hari kedua, setelah disuruh memilih akan induksi atau sesar, dia baru setuju untuk disesar. Dan pada saat itu, dokternya baru bisa melakukan sesar jam 9 malam.

Well, mungkin bayinya sudah gak kuat, atau karena pengaruh induksi yang kelamaan, yang jelas ini sudah takdir..

Sang bayi tidak berdegup lagi jantungnya pada saat mau di operasi sesar…

*sigh

Akhirnya ya sang ibu tetap di sesar, tapi hanya untuk mengeluarkan bayinya (yang ternyata sehat dan gemuk banget…), untuk kemudian keesokannya dimakamkan oleh ayahnya.

Ngenes emang. Tapi dalam setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Dan bukan hanya hikmah kepada subjek utama, tapi pada orang-orang di sekitarnya. 

Buat gua, kejadian ini membuka hikmah bahwa.. Kedua anak yang sudah dianugerahkan kepada gua dan suami ini harus gua jaga dan didik dengan baik. Nikmat ini harus gua syukuri, karena tidak semua orang dapat dengan mudah dianugerahi anak.

Another message I want to convey is that, jangan terlalu mendikotomikan antara lahir sesar dan normal. Memang dalam kondisi ideal, melahirkan normal adalah opsi terbaik bagi setiap wanita. Tapi setiap kehamilan berbeda, ada saatnya tindakan sesar menjadi pilihan terbaik, jika memang ingin mengedepankan keselamatan anak. 

Gua juga bukan tipe yang terlalu percaya sama pemikiran: anak yang dilahirkan sesar, lebih stress daripada anak yang dilahirkan normal.

Kedua anak gua lahir sesar. Tapi di RS gua itu, setiap anak yang baru keluar dari perut ibunya pasti langsung ditempelin ke badan ibunya, belajar nyusu, dan lain sebagainya. So it really comes down to what happen next after the baby is born. Normal atau sesar ya sama aja.

Dan menurut gua sih, bayi2 yang dilahirkan stress itu yang lahirnya di Suriah atau Palestina kali ya… Bukan disini.. šŸ˜«

Intinya, be smart and wise mom. Pikirkan keselamatan bukan hanya kita tapi juga janin. Karena seringkali kita merasa tangguh, tapi akuilah bahwa kita tidak pernah benar-benar tahu keadaan sebenarnya janin kita di dalam sana. The wisest thing to do is listen to expert judgement, which in this case is the doctor.

Melahirkan sesar atau normal sama aja mulianya, insya Allah. Jangan terlalu berkutat disini, karena jauh lebih penting apa yang terjadi setelah melahirkannya.  The struggling of giving birth (whether it’s normal or SC) is like only 24 to 72 hours max. 

But being a mother, is a lifetime.

Cara Membuat TinyUrl

  1. Siapkan Link yang akan anda ubah. Contoh :http://klik-disini15.blogspot.com/
  2. Silahkan kunjungiĀ http://tinyurl.com/
  3. Masukan link yang akan di ubah ke dalam kotak di bawah tulisanĀ Enter a long URL to make tiny: Contoh :Ā http://klik-disini15.blogspot.com/
  4. Klik TombolĀ Make Tiny URL!
  5. Copy alamat link yang di berikan. Contoh :Ā http://tinyurl.com/qeaulah
  6. Selesai

SELAMAT MENCOBA

Source:Ā Cara Membuat link Singkat Tinyurl

Dress Big Size

 

Cari Baju Big Size

Believe it or not, sekarang berat badan gua adalaaaah…. 85kg.

Ini kok gak ada perubahan signifikan ya abis ngeluarin hampir setengah juta tiap bulan buat bayar gym. Hiks… sedih sekali… Emang susah gilak buat nurunin berat badan itu, sodara-sodara. Sebenernya rumus nya gampang sis: KOMITMEN.

Tapi ya Allah… buat konsisten sama komitmen itu susahnya gak ketulungan.

Pernah komit buat senam dan yoga tiap pagi sebelum ke kantor… cuma bertahan seminggu

Pernah komit buat gak makan nasi dan gorengan…. cuma bertahan 5 hari

Pernah komit buat puasa Daud biar saluran pencernaan istirahat dulu…. gak pernah dimulai!

Ya…. walhasil gua harus dengan besar hati menerima kenyataan bahwa size gua emang 18, dan nyari baju ukuran besar atau baju big size begini, agak susah ya kecuali mau keluar modal agak besar dan beli yang bermerk di mall-mall besar, which is gua sih males bangeeeet….

Gua sering becanda ke suami gua kalau kita lagi pas jalan-jalan ke mall. “Kamu tenang aja mas, aku sih gak bakal ngehabisin uang kamu kalau kita jalan-jalan ke mall.” Terus dia tanya balik, “Kok bisa?”

“Ya abis mau beli apa? Gak ada yang muaaatt…… ” >,<

Begitulah sodara-sodara… deritanya orang punya body big size, ya kalau mau pake baju harus pake baju big size. Apalagi kalau mau kondangan tuh, widih harus selalu sedia stok dress big size di lemari. Nyarinya kemana dong?

Well,Ā banyak toko online baju big size kok. Salah satunya sheranie.com. Baju-bajunya gak pasaran, ada size kecil sampe size 6XL, bo! Dijamin ada ukurannya deh buat kita-kita yang perlu baju big size. Selain itu sheranie.com juga ada baju hamil big size nya loh, widih.. so gak perlu khawatir kalau emang lagi hamil, bisa tetep ketjeh!

Gua udah beberapa kali pake bajunya sheranie.com dan jujur gua puas banget! Emang pinter banget cari model dan bahan kain yang tetep terlihat bagus walau buat baju big size sekalipun. Dan hebatnya lagi, harganya sangat sangat terjangkau sekali…lagi. Mungkin karena dia diproduksi massal sehingga bisa menekan biaya produksi per satu pcs baju big size nya secara signifikan. Beda jauh lah harganya sama yang di butik-butik terkenal itu. Hihihi….

Hayuk lah, kalau ada kesempatan kita cusss kunjungin lapaknya sheranie.com

Dress Big Size

Tahun 2015 silam, gua menjalani operasi batu empedu.

Yes, setelah bertahun-tahun gua menyangka gua punya maag akut, ternyata bukan itu, masalah gua adalah batu empedu. Dan gua tau nya udah telat bgt, batu-batu tersebut sudah terlalu banyak untuk di empedu sehingga sampai keluar ke saluran pankreas dan akhirnya gua empedu gua diambil karena sudah dalam keadaan rusak. Untuk detail hal ini gua tulis di artikel yang lain ya. Panjang soalnya šŸ˜‰

Apa hubungannya dengan diet?

Nah, fungsi batu empedu adalah untuk menampung cairan pencerna lemak, dan memompakan cairan tersebut ketika diperlukan. Sebenernya ga ada batu empedu juga gpp sih, fungsinya bisa digantikan sama hati (source: dokter gua). Tapi kasihan aja sih hati nya jadi lelah. Lelah hati… (Lha…)

So, as a consequence dengan tiadanya batu empedu, gua harus diet dong. Tapi bo… Diet itu susah banget. At least buat gua ya. And here’s why.

  1. Ga makan nasi, berarti belum makan
    Ini klasik banget sih. Tapi kenyataannya emang gitu buat most Indonesian. Walau sebenernya ini hanya masalah habit sih. Ketika baru banget abis operasi gua bener-bener gak makan nasi dan apapun yang mengandung minyak.
    Dan hasilnya? Berat badan gua emang turun, dan gak Ā main-main loh, bisa 1kg per hari. Bayangin aja. Luar biasa bukan? Siapa yang gak mau kayak gini. Segitu gua gak pake olahraga loh. Bener-bener murni cuma gak makan nasi dan gorengan doang.Ā Awalnya emang berat banget bo, i was constantly hungry. Tapi itu hanya dua hari pertama, selebihnya gua terbiasa dengan porsi makan itu.
    Unfortunately, gaya hidup super sehat ini cuma bisa gua lakuin seminggu doang. Soalnya abis itu masuk kantor dan yaah… agak susah ya menghindari nasi dan minyak kalau udah di kantor.
  2. MSG godaan mu terlalu berat
    Camilan di ruangan kantor gua itu di ganti tiap hari, dan berkisar antara chips, rengginang, and more chips. Kebayang dong, lagi pusing sama kerjaan terus pas mata ngelirik dikit ada dua toples berisi chips kentang pedes manis menanti untuk dihabiskan.
    Yeah,…. this is my weak spot.
  3. Makanan yang gak digoreng itu gak asik
    Tempe, tahu, ayam, ikan, kerupuk, bahkan nasi aja akan 100x jadi lebih enak kalau udah digoreng, apalagi di penyet. Who wouldn’t agree?!
    Apalagi kalau ada sambel terasi bikinin mbak di rumah. Wuih…
    Apalagi abis pulang kantor, and a hard day at the office. Sometimes munching fried tempe penyet dengan sambel cocolan is just what you need….
  4. Basically gua sendiri gak bisa masak sih…
    Ini masalah juga loh. Gua gak bisa masak. Jadi gua sangat rely sama mbak di rumah untuk provide meal tiap hari. Dan mbak gua ini gak bisa masak macem-macem juga. Yang dia masak ya menu yang sehari-hari dimakan sama most Indonesians, sayur sop dengan lauk tempe tahu, sayur asem, semur, capcay, pecel, dll. Tapi semua tetap dengan lauk yang digoreng. Even gua bawa bekel ke kantor pun tetep aja ada lauk yang digoreng. So yeah,
    Mungkin akan sedikit berbeda jika gua terbiasa masak ya, jadi gua berani untuk ngeramu menu sendiri yang gak pake minyak sama sekali.
    *terusngayal
  5. Weekend? Waktunya makan di luar
    Ini some kind like an escape ritual sih di keluarga kecil gua. Gua dan suami itu sering merasa kalau kita gak keluar pas weekend sambil bawa anak-anak itu, sayang aja weekendnya kebuang percuma. So in weekends kita pasti hop on our car and hang out. Seringnya sama anak-anak sih pastinya. Dan entah kenapa gua selalu menemukan pembenaran untuk kita makan di luar.
    – udah jam makan nih, kasihan anak-anak
    – tadi makan paginya kurang nampol
    – mau mampir situ gak? kayaknya enak buat ngobrol
    – tempat itu ada playgroundnya, jadi anak-anak bisa sambil main!

    sampe alesan – alesan gak penting seperti:
    – beli Happy Meal yuk, bulan ini lagi Hello Kitty!
    dan banyak lainnya. I always find a reason. Sayangnya restoran yang kita pilih biasanya makanannya gak direbus juga sih…

  6. Makan siang di kantor ga ada yang sehat
    Balik lagi ke poin 2 dan 4 di atas. Begitu gua udah masuk kantor. Biasanya susah untuk stay committed to my diet plans. Camilan di kantor biasanya ada MSG nya, camilan rapat kadang gorengan, lunch di kantor (yang murah) ya makanan pinggir jalan yang belum bisa dijamin kehigienisannya. *sigh*
  7. Camilan oh camilan
    Pernah gak sih ke alfa atau indomart buat beli sabun or apapun simple but you ended up borong camilan instead?
    Nope?
    Cuma gua ya berarti…. šŸ˜¦
  8. Ga ada temennya
    Penting gak penting sih ini. Bukan berarti gua perlu someone to reminds me I’m on diet, tapi gua orang yang kompetitif. Jadi kalau partner gua ini berhasil turun 1 kg ya gua harus bisa turun 2kg. Kalau dia bisa lari 10 menit, gua harus bisa lari 2o menit. That’s just me. Sayangnya orang-orang di sekitar gua gak ada yang overweight sih. Dan kalaupun ada yang overweight, they don’t care juga, yang ada malah kita makan camilan bareng.
  9. Berat badan yoyo
    Ini akibat gak pernah konsisten sama pola hidup sehat. Jadi begitu udah turun 2 kg, seneng luar biasa, dan pas weekend dateng, dirayakan dengan makan pizza, which resulted in naik 2 kg juga minggu depannya.
    Buat apaaaa coba….
  10. Suami ga pernah komplain juga sih..
    Nah! Ini dia!
    I think I’d be more fired up in doing my diet program kalau suami gua request dan bener-bener minta: honey, please I need you to lose 10 kg by next month.
    Basically I tend to do everything he asks me to.
    But for this one thing, he never asks, and he never complains. Just like what he promised before we got married.
    That’s something I’m grateful about, but at the same time wish he’d make this one an exception.

Nah, 10 hal di atas itu yang bikin diet itu susah banget buat gua. Padahal gua paham betul hidup sehat itu penting banget dan konsekuensinya hidup gak sehat itu ya banyak gak asiknya sih. Kolesterol tinggi lah, obesitas lah, asam urat lah, diabetes lah, jantung lah, macem-macem deh. Serem kan yak…

But whyyyy…. Susah banget bo!!

Balik lagi ini masalah mentalitas dan komitmen aja sih sebenernya, which I think is the basic problem of all people who’s undergoing diet program. The key is to find the strongest drive you could find for yourself.

Mudah-mudahan abis ini gua bisa lebih disiplin lagi deh dalam menjalankan hidup sehat gua. Gak cuma jaga makan tapi juga bener-bener ganti lifestyle gua.

Dress Big Size Murah dan Bagus