Bulan lalu gua survey rumah di Bogor sama Mas Aru. Waktu itu fokus ke daerah Bogor, my hometown. Hehe ![]()
Basically gua lebih seneng rumah di Bogor, karena pertama bebas banjir (ini penting banget), in some places udaranya masih relatif lebih seger daripada Jakarta, fasilitas lengkap, sekarang aja udah mirip-mirip Jakarta, akses Jakarta ada kereta, pendidikan anak bagus, air bisa PDAM, dan faktor plusnya ke rumah orang tua cuma dua kali angkot. Berdasarkan hasil tanya-tanya sama temen yang udah married duluan, katany lebih enak kalau deket sama rumah orang tua, soalnya pada saat lahiran pertama pasti kita lebih nyaman kalau belajar dan minta tolong sama orang tua sendiri. Belum lagi gua punya dua kakak yang udah nikah dan lahiran juga, gua jadi bisa merasa lebih sigap kalau ntar mengalami baby blues ![]()
Pertimbangannya aneh-aneh ya? Ya, tiap orang beda-beda menurut gua.
Anyway, perumahan pertama yang kita survey adalah Ciomas Hill. Alasannya karena kita nyari yang aksesnya deket ke stasiun kereta ( both of us work in Jakarta ). Di brosurnya sih, mereka klaim kalau ke stasiun cuma 10 menit.
Ternyata pas kita coba, waktu yang diperlukan nyaris setengah jam (naik motor dari stasiun Bogor ke perumahan). Itupun pada hari weekend dan naik kendaraan pribadi. Kebayang aja kalau hari biasa dan naik angkot, yang selama perjalanan ada ketahan macet di suatu pasar.
So, sadly, belum sampe ke lokasi pun kita udah turun minatnya. Bukan apa-apa, kita kan 5 hari seminggu bulak-balik Jakarta. So kalau bisa diminimalis faktor penyebab stress nya ![]()
Setelah sampe disana, kita liat fasilitas umum (fasum) nya juga agak susah. Rumah sakit jauh, indomart jauh, ya menurut kami kurang preferable lah. Ditambah lagi, walaupun view nya Gunung Salak, ternyata udaranya tidak sedingin yang kita kira.
Sebenarnya ada perumahan lain di dekat stasiun yaitu Kebun Raya Residence. Sayangnya harganya tidak masuk di budget, so kita pass.
Kebetulah sehari sebelumnya Mas Aru habis liat iklan perumahan Mutiara Bogor Raya di koran. So, karena waktu kita terbatas, kita langsung meluncur ke sana.
Kalau menurut gua, lokasi dia bisa dibilang lebih strategis, karena masih dekat dengan pusat kota. Dia kelewatan angkot 13, yang mana angkot ini juga melewati jalur pusat kota. Botani Square, Gramedia, Mesjid Raya, terminal Baranangsiang, Kebun Raya, SMP 1, SMA 1, Regina Pacis, BTM, pasar Bogor semua kelewatan dengan sekali angkot. Rumah sakit ada BMC. Kalau mau ke stasiun tinggal turun di Balaikota terus jalan ke bawah, atau nyambung 03. Kurang lebih sama dengan jarak yang gua tempuh sekarang dari Bantarjati. Kita coba naik motor pun ke pusat kota cuma 10 menit.
Letak dia juga di atas, jadi udaranya seger. Kalau punya kendaraan pribadi mungkin lebih cepet lagi kemana-mana. Harga masih masuk budget, so rumah ini preferable buat kita. Mas Aru aja langsung suka.
Saat ini sih kita belum nentuin mau beli apa enggak, soalnya masih ada wacana tinggal di Bintaro. Dan lagi pula kemarin itu di Mutiara Bogor Raya belum sempet liat-liat rumahnya, baru lingkungannya saja. Tapi kalaupun beli di Bogor, kayaknya ambil di Mutiara Bogor Raya itu.
Bismillah….