Feeds:
Posts
Comments

Biasanya gua menghindari naik commuter line JKT – BOO kalau pulang kantor. Bukan apa-apa, penuh gila bo! Masa dari jam 5 – 6 sore hanya ada DUA commuter line ke Bogor? Itu yang nyusun jadwal gimana sih?! Mending naik ekonomi, lenggang dikit, angin banyak :)

So anyway, hari ini gua gak bisa naik ekonomi, soalnya hujan deras. Jendela dan pintu ekonomi kan ga bisa ditutup. So gua harus naik comel, alias commuter line.
Dari awal mood gua udah gak semangat deh, soalnya sesuai perkiraan, penuh nya dahsyat. Tadi gua gak usah pegangan apa-apa juga gak bakal goyang2 di kereta, saking padatnya. Yah, jalanin aja..

Hiburan dimulai ketika ada seorang ibu, sebut saja ibu A, yang gak sengaja menjatuhkan tempat minum ke ibu yang lain, ibu B, ketika hendak mengambil tas di rak. Gua gak ngerti deh ibu A minta maaf atau enggak. Tapi yang jelas ibu B marah-marah. Si ibu B balik ngomel, katanya dia gak sengaja. Dan itu bo, ngomel berbales gitu ada kali sampe lewat 3 stasiun. Gila ya.
Itu berantemnya yang sampe bawa2 suku, pendidikan, adat, maki2an gak penting, dll. Udah sampe disorakin masih gak berhenti juga. Sampe kita bosen nyorakin gak berhenti juga. Buset deh.
Walhasil kita diemin aja sampe diem sendiri :)

Terus di Depok dua2nya sama-sama turun. Huahahahha… Curiga di lanjut tuh berantemnya.
But anyway, enak juga tadi jadi gak kerasa capeknya. Ada hiburan gratis. Mana setelah itu ibu2 yang lain lanjut gosip ngomongin peristiwa tadi, dan saling rame cerita pengalaman berantem masing-masing. #halah
Intinya, perjalanan pulang hari ini seru :)
Itulah seninya naik kereta. Ada aja ceritanya…

-w-

Survey Rumah di Bogor

Bulan lalu gua survey rumah di Bogor sama Mas Aru. Waktu itu fokus ke daerah Bogor, my hometown. Hehe :)
Basically gua lebih seneng rumah di Bogor, karena pertama bebas banjir (ini penting banget), in some places udaranya masih relatif lebih seger daripada Jakarta, fasilitas lengkap, sekarang aja udah mirip-mirip Jakarta, akses Jakarta ada kereta, pendidikan anak bagus, air bisa PDAM, dan faktor plusnya ke rumah orang tua cuma dua kali angkot. Berdasarkan hasil tanya-tanya sama temen yang udah married duluan, katany lebih enak kalau deket sama rumah orang tua, soalnya pada saat lahiran pertama pasti kita lebih nyaman kalau belajar dan minta tolong sama orang tua sendiri. Belum lagi gua punya dua kakak yang udah nikah dan lahiran juga, gua jadi bisa merasa lebih sigap kalau ntar mengalami baby blues :)
Pertimbangannya aneh-aneh ya? Ya, tiap orang beda-beda menurut gua.

Anyway, perumahan pertama yang kita survey adalah Ciomas Hill. Alasannya karena kita nyari yang aksesnya deket ke stasiun kereta ( both of us work in Jakarta ). Di brosurnya sih, mereka klaim kalau ke stasiun cuma 10 menit.
Ternyata pas kita coba, waktu yang diperlukan nyaris setengah jam (naik motor dari stasiun Bogor ke perumahan). Itupun pada hari weekend dan naik kendaraan pribadi. Kebayang aja kalau hari biasa dan naik angkot, yang selama perjalanan ada ketahan macet di suatu pasar.
So, sadly, belum sampe ke lokasi pun kita udah turun minatnya. Bukan apa-apa, kita kan 5 hari seminggu bulak-balik Jakarta. So kalau bisa diminimalis faktor penyebab stress nya :)
Setelah sampe disana, kita liat fasilitas umum (fasum) nya juga agak susah. Rumah sakit jauh, indomart jauh, ya menurut kami kurang preferable lah. Ditambah lagi, walaupun view nya Gunung Salak, ternyata udaranya tidak sedingin yang kita kira.

Sebenarnya ada perumahan lain di dekat stasiun yaitu Kebun Raya Residence. Sayangnya harganya tidak masuk di budget, so kita pass.

Kebetulah sehari sebelumnya Mas Aru habis liat iklan perumahan Mutiara Bogor Raya di koran. So, karena waktu kita terbatas, kita langsung meluncur ke sana.
Kalau menurut gua, lokasi dia bisa dibilang lebih strategis, karena masih dekat dengan pusat kota. Dia kelewatan angkot 13, yang mana angkot ini juga melewati jalur pusat kota. Botani Square, Gramedia, Mesjid Raya, terminal Baranangsiang, Kebun Raya, SMP 1, SMA 1, Regina Pacis, BTM, pasar Bogor semua kelewatan dengan sekali angkot. Rumah sakit ada BMC. Kalau mau ke stasiun tinggal turun di Balaikota terus jalan ke bawah, atau nyambung 03. Kurang lebih sama dengan jarak yang gua tempuh sekarang dari Bantarjati. Kita coba naik motor pun ke pusat kota cuma 10 menit.
Letak dia juga di atas, jadi udaranya seger. Kalau punya kendaraan pribadi mungkin lebih cepet lagi kemana-mana. Harga masih masuk budget, so rumah ini preferable buat kita. Mas Aru aja langsung suka.

Saat ini sih kita belum nentuin mau beli apa enggak, soalnya masih ada wacana tinggal di Bintaro. Dan lagi pula kemarin itu di Mutiara Bogor Raya belum sempet liat-liat rumahnya, baru lingkungannya saja. Tapi kalaupun beli di Bogor, kayaknya ambil di Mutiara Bogor Raya itu.

Bismillah…. :)

Ready? Yes. I am.

Akhir-akhir ini sering banget dapet pertanyaan ini. “Udah siap?” :|
Wajar sih… In matter of months, gua bakal menempuh apa yang disebut orang-orang sebagai “hidup baru”. Beberapa bulan lalu, kalau ditanya ini gua pasti jawabnya lama. Kadang gak jawab. Alasannya masih takut, belum siap, bla..bla..bla.. Alhamdulilah sekarang enggak.
Lambat laun gua menyadari bahwa people grow. And now, growing old feels fine :) Dulu gua selalu berfikir bahwa jadi istri itu harus bisa segala macem. Gak cuma masak, tapi juga harus bisa ngasuh anak, jaga rumah, ngatur keuangan keluarga, ngurus suami, bersihin rumah, … banyak deh. And on top of all that, masih harus bisa perform well di kantor. Dan gua takut, kalau gua gak bisa kayak diatas, suami bakal ngejauh dan rumah tangga gua terancam kandas. Naudzubillah.
Well, ternyata kalau dipikir-pikir gak begitu (unless you’re married to a 100% perfect person who demands everything to be perfect, which chances are, you’re not). Alhamdulilah, i’m going to marry a very understanding person, who sees mistakes as something to learn from. And that really takes the pressure off.
Selain itu, setelah gua pelajari, setiap rumah tangga pasti punya masalah sendiri-sendiri, walau pasangan tersebut dalam pandanganku adalah pasangan yang bijak sekalipun. Jadi sebenernya gua gak perlu takut. Toh, masalah adalah salah satu cara Allah SWT untuk meningkatkan derajat umatNya. Dan janji Allah adalah Ia tidak akan memberikan beban yang tidak sanggup umatNya memikulnya. Insya Allah, Allah sudah siapkan derajat yang lebih tinggi bagi kita jika kita berhasil melalui suatu masalah. Percaya itu aja :)
Jadi sekarang kalau ditanya udah siap atau belum, gua Alhamdulilah udah bisa jawab siap dengan tegas :) Kata siap dari gua itu bukan berarti karena gua bakal jadi perfect pas resmi jadi istri nanti. Tapi karena gua siap belajar dari pengalaman apapun yang mungkin gua temui nanti.
Tentunya ada juga faktor dengan orang seperti apa kamu menikah. Karena marriage kan sesuatu yang dijalani berdua. Kalau calonnya egois, temperamental, gak bisa diajak berkerja sama / dikusi…mending pikir2 lagi. Hehe… Bukan apa-apa, soalnya kan ini buat lifetime :D

But anyway, all of the above are only my humble opinion :)

-w-

The Meaning of Marriage

Can somebody tell me what’s the meaning of marriage? Other than spending (probably) more than half of your life with someone else that is legally known as “your husband”?

Kemarin gua ke mall buat beli sepatu. Dan ternyata belanja pada weekend terakhir sebelum Lebaran itu adalah keputusan yang kurang bijak.
Mall Ekalokasari Bogor yang biasanya kalah tenar sama Botani Square Garden itu, penuh sesak banget kemarin. Gua pikir Bogor bakal sepi karena ditinggal mudik, ternyata gua salah besar. Bogor kan bukan Jakarta yang isinya nyaris pendatang semua. Maka mall tetap penuh. Cenderung suffocating malah. Soalnya dimana-mana tergantung tulisan DISKON dengan huruf kapital dalam ukuran besar dan background merah menyala. Pantes aja penuh, pikir gua.

Tapi gua perlu beli sepatu. Soalnya dua sepatu andalan gua udah mulai gak nyaman dipake dan setiap gua ngeliat mereka kayaknya mereka teriak balik ke gua: “Jangan bawa kami ke kereta lagi dong! Please!”
So, akhirnya gua (walaupun dengan malas dan agak terpaksa) masuk ke toko sepatu langganan gua di mall itu, Bucheri.

Bucheri ini merk sepatu yang gua pake dari jaman gua kuliah S1 dulu. Modelnya everlasting dan awet banget, alias kuat dibawa dalam berbagai medan dan cuaca. Cocok lah sama gua yang demen jalan jauh cuma buat ngehemat ongkos angkot 2000. Harga sepatunya memang relatif mahal, tapi sekali beli sepatu ini gua gak perlu beli sepatu lagi untuk minimal setahun ke depan.
Tapi sayangnya siang itu gua lagi gak minat dengan model yang dipajang di toko itu. Mungkin ada sisi lain dari kata-kata “everlasting model” tadi -__-
Gua pengen model yang lain. Akhirnya gua keluar dari situ dan naik ke lantai 2. Fladeo dan Yongki Komaladi berjejer dengan rukun dan damai. Gak ada tulisan DISKON dengan latar merah disini, tapi gapapa. No biggies, asal gua nemu sepatu.
10 menit gua mondar-mandir disitu tapi gua gak nemu juga sepatu idaman gua. Ada satu sepatu setengah keds setengah flat (nah loh! bingung kan?!) yang gua suka. Hampir gua beli malah, tapi setelah gua pikir-pikir lagi, bahannya dari kain. Emang itu bikin nyaman banget, tapi I live in Bogor man. Dan ini udah masuk bulan hujan. Bisa panjang urusannya kalau gua ke kantor pake sepatu basah bekas hujan semalem.

Akhirnya gua batal beli tuh sepatu.

Gua jalan lagi ke seberang, Matahari. Di sini banyak banget model sepatu dan lebih banyak lagi orang yang belanjanya. Gua harus berjuang diantara ibu-ibu, anak-anak, remaja-remaja, dan bapak-bapak serta pacar-pacar yang tampangnya sudah sangat memprihatinkan nungguin pasangan-pasangan mereka milih high heels. Inilah sebabnya gua lebih seneng belanja sendiri. Lebih bebas, lebih lincah, tanpa menimbulkan banyak korban :)

Singkat cerita gua nemu counter Triset. Gua memang gak jago masalah brand. Gua gak jago belanja malah. Tapi gua inget baju-baju keluaran Triset biasanya casual dan sangat nyaman. Mungkin sepatunya juga sama.
Bener aja, gak sampe 5 menit gua nemu sepatu yang gua mau. Modelnya anggun dengan sedikit terbuka di depan, warnanya cokelat khaki dengan aksen gambar capung kecil di ujung.
Kalau boleh jujur, yang bikin gua pengen beli tuh sepatu adalah gambar capung itu, bukan model sepatunya (Seriously. Kupu-kupu sih masih mungkin lah. Tapi, CAPUNG?!)
Aneh ya gua. Gapapa yang penting tuh sepatu nyaman.
Maka tanpa banyak cingcong gua minta ukuran gua dan sekalian notanya. Kebetulan banget tuh sepatu lagi ikut kena diskon 30%.

Abis dapet sepatu gua bukannya langsung bayar dan pulang (biar gua sempet nonton donlotan video Arashi gua semalem), tapi gua malah pecicilan di bagian wedges. Gua, cewek berumur 26 tahun, sudah seumur hidup menghindari alas kaki berhak tinggi. Makenya pegel dan gua jadi gak bisa jalan cepet. Tapi hari itu gua lagi pengen nyoba jadi girly sekali-sekali (gua menyalahkan cewek-cewek di sekitar gua yang ribut banget milih-milih sendal pesta).

Bukan Widya Hapsari kalau belanjanya gak cepet. Gua langsung nemu wedges yang gua suka. Pas dicoba buat jalan, Alhamdulilah nyaman. Tadinya gua mau test-drive buat lari, siapa tahu pas lagi pake wedges itu gua harus ngejar kereta, tapi gua sadar mall bukanlah tempat yang tepat untuk itu. Akhirnya gua beli aja tuh wedges. Sebenernya setelah beli wedges itu gua ngeliat lagi counter Kickers. Wah! Modelnya bagus-bagus cuuuyy! Sangat jauh dari tipe sepatu tendang-menendang (as the name suggests). Materialnya juga kuat banget. Sayang gua udah beli 2 sepatu duluan. Ah well, maybe next month.
Akhirnya setelah membayar dan menahan nafsu untuk beli Kickers juga, gua pun ngangkot pulang dengan perasaan puas.

And here they are, my shoes. Tadaa!
My Shoes :)

Lalu inilah tanggapan orang-orang di sekitar gua tentang sepatu dan sendal baru gua ini.

Nyokap: *angkat alis satu* “Wedges? Kamu yakin?”
Jhe (best friend gua): “Triset itu katanya gak awet, Wit…”
Pacar (setelah gua kasih tau gua cuma abis 300ribu-an): “Pintar!”
Terus setelah gua kasih tau kalau gua gak nyadar dua benda itu lagi diskon 30%, dia ralat komen dia:
“Oh, berarti bukan pintar, tapi lo BERUNTUNG!”
Damn.
Kakak gua: “Bagus kok…” terus dia melorot duduk di lantai sambil selonjoran dan menarik nafas panjang.
Ah, pendapat orang lagi hamil emang agak meragukan. Terutama yang lagi bengkak kakinya sampe kayak paha sapi kurban.

But all in all, gua satisfied dengan sepatu dan sendal baru gua kok. Nyaman, manis, and with well-worth-it price! Masalah dia awet atau gak kan tergantung gua makenya (masa sih gak awet? bukan barang murahan kok!). Kalau gua makenya buat ngejar kereta ya…. -__-

Lagian, kalaupun tiba-tiba rusak, kan berarti gua jadi ada alasan buat belanja sepatu lagi. Hehehe (^__^)y

1 Ramadhan 1432H

….dan gua gak puasa saja dong!

Hiks!

Alhamdulilah, satu lagi target gua tercapai: masuk perusahaan telekomunikasi :)

Setelah melewati proses seleksi yang sangat panjang dan menyiksa itu.. akhirnya berbuah hasil yang menyenangkan. Semoga barokah buat gua dan keluarga. Amiin.

ps: tapi gua masih pengen jadi freelance translator. hihihi…..

Akhirnya gua kembali menulis juga.
Sebenernya selama dua tahun belakangan ini gua tetep nulis. Cuman bukan di blog sini.
And it’s in English (^__^)v
Entah kenapa kalau pake bahasa paman Sam, gua bisa lebih banyak ngomong. Dan gua yang aslinya bisa muncul ke permukaan.

Kalau nulis blog Indonesia itu…. gua suka sulit nyari tema. Padahal sih, tulis-tulis aja ya. Emang siapa yang peduli? Gak nyusahin orang ini tulisan-tulisan gua. Hehe…

Anyway, what has happened to me in the past two years?
Yah, intinya sih bisa dijabarkan dalam beberapa kata sajah: gua lulus S2, kembali ke Indonesia, dan sekarang kerja di Nexus Asia Pacific. Udah. Nothing else.
Eh ada deng, gua (akhirnya) les keyboard dan Jepang v(^__^)v

Bayangkan.
Usia udah 26 tahun begini (dan masih single!), weekend bukannya dipake shopping or main sama temen or ketemu orang, tapi malah dipake buat les. Emang rada-rada otak gua inih. Tapi gua nikmatin, so gimana dong?!
Herannya ortu juga gak larang. Silahkan aja gua ngabisin weekend gua dengan les, toh pake uang sendiri ini. Hehe. Dan gua les nya gak setengah-setengah looooh. Keyboard gua sampe ikut annual concert nya Purwacaraka, dan Jepang gua sampe ambil JLPT (Japanese Language Proficiency Test) level N5 tahun 2010 silam. Well, gua belum sampe tahap N3 or N2 sih (level paling tinggi N1), but I’m aiming for that. Just watch me. Hehe…

Banyak orang yang nanya kenapa gua ambil les? Kan udah kerja, di Jakarta lagi (suka pulang malem lagi!) pastinya lesnya ngambil waktu weekend dong. Ya… mau gimana lagi, gua suka.
Gua emang suka musik dari kecil dan selalu memimpikan bisa main piano. Pengen les, tapi waktu kecil itu, les musik bukanlah prioritas ortu gua. And I could fully accept that. Sekarang gua udah punya gaji sendiri, gua pikir gak ada salahnya gua habiskan untuk memuaskan keinginan hati gua. Ya kan? #maksaabis
Les Jepang juga gitu. Gua emang suka sama bahasa Jepang sejak SMA dulu. Tapi gak pernah ada niatan mau les. Karena gua pikir: buat apa?
But now, I think: what the heck. Kalau emang suka, ya seriusin aja. Toh ilmu ini, gak rugi kalau dipelajarin. Ya gak?

Dan terbukti sih, sekarang gua puas. Bisa main keyboard walau gak pro-pro banget. Bisa nonton variety show Jepang tanpa subtitles (ada kebanggaan tersendiri loh!). Daaaan, walaupun secara gak langsung, bisa bikin CV gua lebih keren. Secara, sekarang bahasa asingnya ada dua, hehehe….. v(^__^)v

Udah ah, kenapa jadi ngelantur ngomongin les sih? Hayoh! Back to work!
(jiaah,…ketahuan banget nulisnya pas lagi di kantor!)

Phone Calls ^__^

Setelah liat facebook gua, banyak temen yang komentar, “Lo kenapa sih wit? Udah pengen pulang banget ya?”
Hehe….

YA IYYA LAAAH!!! Neven been away from home this long. Paling lama tiap 6 bulan sekali pulang ke rumah (waktu SMA).
Ini udah 8 bulan lebih gak ketemu rendang! (maaf, maksudnya family).
Sekarang kalau kangen rumah ya solusinya nelepon rumah (chatting doesn’t work since I have to wait FOREVER for my mom and dad to write a single sentence, and webcam doesn’t help either cause my mom would start crying, my dad would tell me to show the whole room and house, and garden, while my sisters would busy commenting about the dark spots on my face or how fat I’ve become. What a lovely sisters, huh?).

But, calling home can lift my mood right away. Why? Cause when it comes to talk on the phone, each members of my family has their own style…. ^_^

Bokap’s style
—————————

Paps

Paps

1) Pertama-tama, dengarkan dengan seksama.
Gua: Hallo, paps! apa kabar? wiwit ni.
Bokap: ya, ini siapa ya??
Gua: ….

2) Ramah itu penting.
Gua: Ini wiwit pa.
Bokap: Oh, … Kok nelepon?
Gua: …
(soalnya kalau lari, sampe Lebaran tahun depan juga belum nyampe, pa…)

3) Keep it simple
Bokap: sehat nak?
Gua: Alhamdulilah, sehat pa.
Bokap: Gimana studynya nak? lancar?
Gua: Alhamdulilah masih bertahan pa
Bokap: Kiriman allowance lancar nak?
Gua: Alhamdulilah lancar pa.
Bokap: Oke, … mau ngomong apa lagi nak?
Gua: …..

Nyokap’s style
—————————-

Mams

Mams

1) Bukalah dan tutuplah dengan salam :)

2) Jangan pernah lupa pertanyaan paling penting abad ini: Jadi berat badan kamu berapa sekarang?

3) Selalu update keadaan rumah. Dan untuk nyokap gua, rumah itu punya definisi yang sangat luas, bisa jadi rumah beneran, rumah dalam artian kota, propinsi, sampe rumah Negara Kesatuan Republik Indonesia nan tercinta di alam raya.
“Jadi wit, mengenai capres dan cawapres kita untuk tahun ini. Kan ada 3 tuh. Kamu pilih yang mana?”

4) Jangan panik.
“Eh..wit..bentar..bentar… ini mau pake speaker aja… aduh gimana sih ini pasang speaker nya?? mama gak ngerti!! …. tunggu wit!! jangan ditutup dulu!! …aduuuuh!!!…ADE!!!!”
After 9 months away, I already got used to this kind of panick situation. Tapi telepon terakhir kemarin bikin gua melongo: “Ade!! Kok teleponnya nyetrum sih??!!”

5) Jangan nangis
Nyokap: punggungnya gimana wit?
Gua: masih agak kaku sih ma, sekarang kalau duduk gak bisa lama-lama.
Nyokap: …..
Gua: ma?
Nyokap: ….
Gua: ma?… mama??
Mba Sofie: Yes, wit! mba Sofie disini
Gua: loh? mama mana?
Mba Sofie: tuh! lagi nangis di pojokkan. Udaaaah…. cuekin aja… emang suka gak jelas gitu kok mama kita. Kamu kayak gak tau ajah…
(background voice nyokap: ADEE!!!)

6) Jangan berantem di telepon
Nyokap: Jadi kapan kamu pulang?
Gua: Insya Allah October sih ma
(background voice bokap: dibilangin October gak percaya)
Nyokap: Yang beli tiketnya siapa?
Gua: ya….Dep..
(background voice bokap: Ya Depkominfo lah! Kan emang dealnya begitu dulu)
Nyokap: iiih papa diem dulu deh. Orang aku lagi ngomong juga. Nah, jadi wit, October ya… masih berapa bulan lagi tuh ya…
(background voice bokap: masih 7 bulan lagi. gitu aja kok ditanyain sih?) <— waktu percakapan ini terjadi.
Nyokap: Papa kenapa sih? Rese amat. Papa sana dulu deh, aku mau ngobrol sama wiwit dulu!
Bokap: Abis gitu aja ditanyain, ngobrol itu yang penting-penting aja kek. Kasian kan pulsa dia kebuang percuma.
Nyokap: Ini penting pa! Kan kita harus tau dia ntar pulangnya gimana.
Bokap: Ya tapi gak usah ditanyain tiap minggu dong.
Nyokap: Gapapa dong! Bentar ya wit… ini si Papa suka emang suka rese…. Papah!
Gua: …….

Mba Ruri's style
——————————-

BaLur

BaLur

ngobrol sama Mba Ruri sama aja kayak ngobrol sama bayi. Gimana enggak, kalau tiap baru ngomong bentar, anaknya udah nyerocos.
(Percakapan di bawah ini diiringi suara bayi umur setahun as the background voice)

Mba Ruri: Wit, apa kabar?
Gua: Baik mba.
Mba Ruri:Jadi berat badan kamu berapa?”
Gua: ….hmmph (kenapa sih emangnya kalau gua tambah gemuk? people grow gitu loh!)
Mba Ruri: Eh tunggu bentar ya ini si Arin mau jatoh
Gua: ok,ok.. take your time.
Mba Ruri:..ya.. jadi lagi liburan ya? Udah kemana aja??
Gua: gak banyak sih, tapi kemarin pergi sama temen ke …
Mba Ruri: eh tunggu bentar, ini si Arin gak mau diem banget!
Gua: ok…ok..
Mba Ruri: ya…. jadi kemana tadi?
Gua: iya, jadi kemarin sama temen serumah ke kas…
Mba Ruri: aduuuhh… bentar ya wit, ini si Arin narik-narik teleponnya…
Gua: …hmm..iya..iya…
Mba Ruri: nah, ok! jadi kemana tadi?
Gua: ke kastil Tin..
Mba Ruri: Arin!! jangan dimakan teleponnya!!!
Gua: ….
Mba Ruri: oke..oke.. jadi kemana tadi?
Gua: …nngg… gak kemana-mana kok mba. Di rumah aja.

Mba Sofie’s style
——————————-

Mba SoV

Mba SoV

Mba Sofie’s style? Hmm…now, you’ll see why I always end up calling Indonesia more than an hour…

1) Tekankanlah hal-hal yang kamu anggap krusial.
“JADI YA WIT, kamu harus ingat untuk selalu melihat ke bawah, tapi jangan lupa untuk juga melihat ke atas. Nah, dua hal itu jangan dicampur adukkan, JANGAN DICAMPUR ADUKKAN!! JANGAN DICAMPUR ADUKKAN!! SEKALI LAGI JANGAN DICAMPUR ADUKKAN!!!
(by the end of the day, yang gua inget cuma “jangan dicampur adukkan”)

2) Summarise after each point. (baca: after each 10 minutes)
“JADI GITU YA WIT….seperti yang mba bilang barusan…” dan nasihat yang udah diomongin 10 menit yang lalu pun diulang lagi dengan susunan kata-kata yang berbeda.
Phrase ini akan berulang sekitar 10 menit kemudian. Kalau istilah IT nya: looping forever.

4) Jangan hanya know your audience, tapi juga know your surrounding.
“WIT! masih dengerin gak?! masih dengerin kan?! kok diem aja sih?! lagi dinasihatin juga! Dengerin napa!”

5) Seriously, know your surrounding.
Mba Sofie: wit??…wit?? masih disitu kan??
Gua: i-iya mba… ta-tapi ini.. udah nyaris dua jam mba…
Mba: Kamu ini gimana sih! … Jangan ditutup dulu! Mba masih pengen ngomong! Dua menit lagi ya! Nah, jadi gitu wit… seperti yang mba bilang barusan….

5) Jangan lupa narsis: jadi wit, kayaknya ke depannya kamu kalau nelepon mba seminggu sekali aja deh. Biar kamu gak bangkrut gitchu. Soalnya kamu tau sendiri mba kalau udah ngomong gak bisa berhenti. Tapi lihat sisi baiknya dong, kamu beruntung loh bisa ngobrol sama mba. Banyak loh orang yang mau ngobrol sama mba. Banyak loh wit, banyak. Gak tau nih, kenapa ya? Bakat alami sih kayaknya. Jadi ya wit, mengenai bakat….
(dalem hati: nyokap gua ngidam apa sih waktu hamil kakak gua? petasan?)

6) Tapi akhirnya dia sadar diri kok…
Gua: kenapa ngomongya jadi bisik-bisik mba?
Mba Sofie: soalnya ada mama, wit. Ntar kalau ketahuan masih nelepon ntar mba dimarahin lagi gara-gara ngabisin pulsa kamu (and yet you’re still talking!)
Sebenernya mba itu pendengar yang baik loh (dari hongkong), cuman kalau buat kamu itu ada pengecualian. Kalau ke kamu itu mba perlu banyak bicara. Soalnya mba merasa kamu itu perlu banyak dinasihatin (hah?! maksut loh?! bilang aja emang situ hobinya ngomong!)

Seriously guys, how can I not miss these people? ^___^

Jumat, 26 June 2009, dini hari (jam 4 pagi tepatnya), gua bangun buat salat Subuh.
Abis salat, iseng buka HP, terus ada sms dari tante gua tercinta, Jhe. Pesannya sih singkat aja, cuma tiga kata:
‘Michael Jackson dies’

HEH???!!!!! WHAT ON EARTH???!!!

Gua langsung buka google dan yak… ternyata itu nyata adanya (apa seh?!). Wah… padahal gua sama roomate gua baru ngomongin almarhum beberapa hari sebelumnya. Soalnya kan MJ mau dateng ke London dan gua pengen banget bisa liat MJ. Kapan lagi gitu loh… liat MJ…..
Ternyata….. beneran gak kesampean…. hiks…

Well, Innalillahi wa Inna Ilaihi Rojiun…. Alhamdulilah dia meninggal sebagai muslim :)

Anyway, I think I’m gonna miss all of his songs. No one can create beat as good as him…..

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 100 other followers